Senin, 29 September 2014

KEMEREMAN DAN KEDIP-KEDIP


Pada usianya yang memasuki 3 th 2 bulan, ade Najma semakin percaya diri untuk duduk di depan kalau dibonceng motor. "Ade kan sekarang sudah besar," begitu katanya. Apalagi beberapa moment ade Najma sering dibawa bapaknya ke luar dengan mengendarai motor dan Ade Najma dibonceng di depan, Apalagi Aa Mush'ab(5th 3 bln) sudah semakin tinggi sehingga kalau dibonceng di depan, sudah menghalangi jarak pandang bapaknya, dalam mengendalikan laju motor.
Namun, kebiasaan anak balita yang sering tertidur di motor, memang kadang mengkhawatirkan.Maka setiap kali akan naik motor, ade Najma selalu diingatkan,"Jangan tidur ya De, bahaya lho, nanti bisa jatuh".
"Iya, ade ga akan tidur,"jawabnya.
Pernah suatu kali tertidur, kami berhenti dulu dan membangunkannya.
"Ade, ade, ayo bangun, Ade ketiduran ya?!" kata Bapaknya.
"Ade ngga bobo, cuma kemereman," Hehe ada-ada aja istilahnya, pake kemereman segala. Akhirnya setiap kali naik motor, kami suka mengingatkannya untuk tidak tertidur di motor dengan istilahnya 'kemereman'. Jadi setiap dalam perjalanan bermotor, kami selalu mengingatkan"Ade jangan kemereman yaa..!"
Jawab ade Najma," Ngga, cuma kedip-kedip aja". Hehe..istilah baru lagi rupanya.

Minggu, 27 Juli 2014

BEDREST, SEPI, DAN KANGEN

Harus bedrest sejak hari selasa lalu,namun sulit untuk bisa 100% istirahat, makanya 2 hari lalu 2 mutiaraku diungsikan dulu ke neneknya. Namun, yang terasa justru sepi yang menyergap dalam pelukan dinginnya suhu Lembang. Apalagi para tetangga sudah mulai mudik. Sepinyaa…kangennyaa…duh.
Apalagi sebelum berangkat ade Najma (2th 11 bln) selalu bernyanyi,
"Juala adalah juala,bukan nomol 1,2,3,
kalah menang bukan masalah,
telus belusaha pantang menyelah".
Atau nyanyi salah satu bait lagunya Rumah Pensil. Ade Najma menyebutnya 'lagu surga'.
"Wahai teman-teman aku mau beltanya
siapa mau masuk sulga
kalau kamu mau, sungguh mudah calanya
kamu halus cinta Islam."
Dengan 'r' nya yg masih cadel, sungguh selalu terngiang di telinga. Belum lagi ketika mau berangkat diantar ayahnya ke rumah neneknya, sampai melewati pagar rumah kami terdengar ocehannya,"berang…kat- rangkat, berang…kat-rangkat.."Masih dg 'r' nya yg cadel.
Ocehan itu adalah ungkapan kegembiraannya, disebabkan mau berangkat diajak ayahnya naik motor, berdua. Sebab, biasanya yg selalu diajak ayahnya berangkat selalu kakaknya, Aa Mush'ab (5th). Sementara Aa Mush’ab sudah berangkat lebih dulu sebelum Jum’atan, bersama adikku (pamannya).
Ade Najma dengan pipinya yg gembil membayang saja di pelupuk mata…maklum lagi seneng makan. Sebentar-sebentar terdengar suara kulkas dibuka, kalau tidak Aa Mush’ab, ya ade najma yang buka. Seringnya Ade Najma yang buka.Atau terdengar kresek-kresek suara plastik kemasan biskuit atau kurma di atas meja makan, yang dijangkau ade Najma, lalu mengunyahnya dengan khusu’. 
Pernah dia mengambil 4 biji kurma, lalu diberikannya padaku 2 biji.”Nih, Mak, dua buat emak”. “Makan, Mak”. Dengan pandangan polosnya menatapku.
“Oh, terimakasih De, Ade baik deh,”kataku terharu
”Ini buat ade,” sambil menunjukkan 2 biji kurma lainnya. Lalu menyodorkan padaku satu biji,
” Tolong diambil bijinya,Mak!”
Dengan mata setengah terpejam, aku mengambil satu biji kurma yang disodorkannya, lalu mengeluarkan bijinya.Kemudian aku berikan kembali. “Ini, “kataku sambil menyodorkan biji kurma yg sudah dikeluarkan. Dalam temaram cahaya kamar, dan mata setengah terpejam, terlihat Ade najma memandangiku, tanpa segera mengambil kurma yg aku sodorkan.
“Tapi ade ga mau bijinya, ade mau kurmanya,” katanya.
Hihi dari situ aku baru sadar , teryata yang aku sodorkan pada ade Najma bukan daging buah kurma yang sudah dikeluarkan bijinya, tapi justru bijinya yang diberikan.
“He he he maaf De, emak kira ini daging kurmanya, tahunya malah bijinya,”kataku sambil terkekeh.
Ade najma pun tertawa, sambil berkata,”Ih, emak lupa ya?!” Pipinya yang gembil makin membulat lucu dan menggemaskan karena bentukan garis tawanya.
Kalau Aa Mush’ab tiga hari sebelumnya pernah mimpi buruk. Begitulah dia bilang. Mush’ab terbangun sambil menangis, lalu berkata sambil membangunkanku,
”Ma, Aa mimpi buruk”.
“Berdoa dulu tidak, ketika mau tidur tadi?”Tanyaku.
“Tidak,” katanya
“Makanya sebelum bobo kan emak suka bilang harus berdoa dulu, yuk, sekarang baca Ta’awudz, Aa pura-pura meludah ke sebelah kiri tiga kali, lalu berdoa, dan bobo lagi. Masih malam,”kataku. Aa menurut, lalu tertidur lagi.
Biasanya keesokan harinya selalu kutanya tentang mimpi buruknya, tetapi hari itu aku lupa, karena aku ‘sibuk’ dengan urusan bedrestku.
Pada usianya yang sudah 5 tahun, Aa Mush’ab makin banyak temannya, dan mulai jauh mainnya. Apalagi semenjak punya sepeda roda dua. Biasanya, jika dia menyebut nama teman-temannya selama ini, pasti aku tahu, yang mana anaknya.
Tapi sekarang nama teman-teman yang disebutkannya ada beberapa yang tidak aku ketahui anaknya, maka sering ketika keluar rumah bersama anak-anak dan mereka ketemu teman-temannya, selalu kutanya namanya. Ada salah satu temannya yang ini aku kenal karena dekat dengan rumah, dan pernah main ke rumah.
Anak tetanggaku yang non muslim. Aku biarkan mereka bermain selama masih dalam suasana yang tidak membahayakan aqidah anakku. Namun, pernah suatu hari, ketika anak itu main bersama Aa Mush’ab di rumah kami, ada suatu peristiwa, yang akhirnya membuat aku mewaspadai pertemanan Aa Mush’ab dengannya.
Saat itu, Aa mau minum.Lalu meminta kepadaku untuk diambilkan minum. Bang Pi (bukan nama sebenarnya), yang merupakan teman Aa.Mush’ab yang non muslim itu berkomentar,
”Kalau mau minum ambil sendiri, kalau aku suka ambil sendiri. Kamu tahu tentang cerita ‘tangan dosa’? “
Aa menoleh pada bang Pi -- Aa memanggilnya Bang karena usianya lebih tua, sudah masuk sekolah kelas 2 SD-- dan Aa seolah menunggu untuk mendengar cerita selanjutnya. Bang Pi tidak terlalu bercerita banyak, dengan gaya khas bercerita anak kelas 1 atau 2 SD yang belum sempurna, dia bercerita. Inti cerita yang berhasil aku tangkap dalam keterbataannya, menyebutkan sebaiknya ambil minum sendiri jangan merepotkan orangtua. Inipun sesudah aku ‘cut’ ketika mulai menyebut term agamanya.Ok, sejauh ini ceritanya ga ‘aneh’, namun karena dalam term non Islam maka aku mulai mewanti-wanti untuk memilih teman.
Agar Aa Mush’ab berteman dengan anak seusianya dan yang membawa kebaikan sesuai aqidah Islam. Aku juga semakin sering menanamkan tentang apa itu muslim dan non muslim pada anakku, selain menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasulNya, serta keharusan untuk taat kepada aturan Allah dan RasulNya, tentu dengan kapasitas dia sebagai seorang anak usia 5th.
Di wilayah tempat tinggal sebelumnya, Aa Mush’ab juga pernah punya teman non muslim, tetapi seusianya dan masih polos. Dia sering main ke rumah. Namun beda dengan Bang Pi, dia sudah SD lebih tua usianya dan tentu saja telah mendapatkan ilmu tentang agamanya.
Nah, pagi-pagi sebelum berangkat ke rumah neneknya bersama pamannya, aa Mush’ab bilang padaku,”Mak, tadi Aa mimpi…mimpi Bang Pi ngaji.” “Bang Pi mau masuk Islam”. Aa mengatakannya sambil senyum padaku. Aku hanya senyum dan mengaminkan saja saat itu. Tetapi menjadi catatanku untuk mengajaknya ngobrol lagi pada saat yang tepat.
Memang Aa semakin perhatian pada lingkungannya. Kadang aku menyangka dia seperti tidak memperhatikan tetapi dari komentar-komentarnya, aku menyadari bahwa dia mangamati sekitarnya.Karena sering melihat kebiasaanku untuk segera berpakaian lengkap jilbab dan kerudung jika ada tamu laki-laki non mahrom baik itu tetangga,saudara,atau teman ayahnya ketika bertamu.Atau ketika akan keluar rumah sekalipun hanya menjemur pakaian atau ke warung, apalagi kalau pergi jauh mengantar dia sekolah atau ke pengajian, membuat dia mengamati orang-orang di sekitarnya, termasuk mengamati kebiasaan ibu-ibu tetangga kami.
Sementara tentang mengapa aku selalu berjilbab dan berkerudung ketika keluar rumah atau menerima tamu, dia sudah tahu, karena aku pernah menjelaskannya. Namun tentang saudara mahrom dan bukan mahrom, memang belum dijelaskan secara detil padanya.
Pernah Aa Mush’ab bertanya,” Mak, kenapa teteh A, kalau pergi jauh suka pake kerudung, tapi kalau pergi dekat (baca:ke rumah tetangga) ngga pake kerudung?”
“Teteh B juga kalau pergi ke pasar pake kerudung, tapi pas ke warung ga pake kerudung,”katanya lagi.
“Mungkin karena teteh A dan B belum tahu, kalau keluar rumah walau dekat juga harus pake kerudung,”jawabku
Pada kesempatan lain Aa Mush’ab juga suka bertanya,“Mak, kenapa Mamah C,kalau ada tamu kok kerudungnya ngga dipake, padahal tamunya laki-laki,Mamah C bukan orang Islam?”
“Orang Islam,mungkin mamah C belum tahu, atau mungkin tamunya itu saudaranya,” jawabku.
***
Saat Ramadhan seperti ini, menantikan Adzan maghrib yang tepat waktu, membuat kami memilih chanel televisi untuk menantikan adzan maghrib. Pernah ada chanel televisi yang menampilkan pembacaan doa buka shaum dengan menampilkan perempuan dengan kerudung yang asal nempel. Berkomentarlah Aa Mush’ab,” Mak, ini orang Islam bukan?”
“Iya, “jawabku,”Kan itu sedang membacakan doa buka shaum”.
“Tapi kok ga pake kerudung,?”Tanya Aa Mush’ab lagi. Lalu melanjutkan pertanyaannya,” Pake kerudung tapi rambutnya masih kelihatan…”
“Iya ya, mestinya rambutnya tertutup rapi,”jawabku.
“Ngga tau kali ya, Ma?”tanyanya lagi
“Iya,” jawabku.
Begitulah Aa Mush’ab, pertanyaan-pertanyaannya membuatku sebagai orangtua harus kreatif dalam menjawabnya.Kreatif dalam arti mampu menjawab pertanyaannya dengan bahasa yang mampu dia cerna sebagai seorang anak umur 5th.
Hehe..jadi cerita banyak nih. Aaaah, kangeennnn. Mutiara-mutiaraku sekarang lagi apa ya? Rasa Kangen yang membuncah, walau baru 2 hari mendorongku untuk mengsms salah satu adikku.
“Arogo teu? Kangen eung, ke anak-anaku dan ke semuanya…T-T” Demikian smsku.
Balasan sms dari adiku,”Karek ge 2 hari atuh, ogo mah henteu ngan teu daraek cicing”.
Aku Balas lagi sms adikku,”Emang begitulah,makanya ga bisa bedrest, pada aktif…calon aktivis pejuang syari’ah khilafah.Aamiin.”
 Lembah Andir,27072014-29091435
Cat: ogo=manja dalam bhs Sunda, arogo=pada manja (lebih dr 1 orang)
Eung= plesetan dari euy, kata seru dalam bhs Sunda,
Karek ge 2 hari atuh, ogo mah henteu ngan teu daraek cicing =baru 2 hari, manja sih tidak, tapi pada ga mau diam.

Jumat, 06 Juni 2014

Diary bunda : SEGI EMPAT DARI GANTUNGAN BAJU

Aa Mush'ab :"Ma, Aa mau bikin segi empat dari gantungan, minta gantungannya yaa Ma!"
"Ya, boleh". Jawab saya sambil tetap bolak balik ke dapur, membereskan jemuran dan masak.Terlintas dalam benak,"segi empat dari gantungan? Gmn caranya?" Sudahlah biarlah anakku berkreasi,pikirku.

"Tuh, Ma sudah jadi.Lihat Ma di kamar!"  Kata Aa Mush'ab sambil menyusul saya ke dapur, mengajak saya ke kamar..
"Mana lihat?".Saya mengikutinya ke kamar. Karena Bohlam lampu kamarnya putus, dengan cahaya yg remang2, jd tdk terlalu jelas terlihat. Namun bentuk segi empatnya nyata terbentuk.

"Subhanallah,Alhamdulillah Aa bisa bikin segi empat dari gantungan!" "Coba bikin lagi di luar supaya terang jadi kelihatan!"

Seperti gambar2nya yg dia buat di  program paint, Mush'ab selalu meminta kami (orang tuanya) untuk menyimpannya (save) dan memberi nama filenya.Maklum baru mau berjalan 5 th dan kami sengaja belum mengajarkannya baca tulis.Maka, untuk hasil karya lainnya selalu minta disave.  Akhirnya, dibantu Apa (ayah) gambarnya difoto untuk didokumentasikan.

"Sudah disave, Ma",kata Aa. Mush'ab.

LembahAndir06062014^_^

*baru nyadar blogku terlantar selama setahun 06062013-06062014 hiks*

Kamis, 06 Juni 2013

Mengikis Pola Konsumtif Sejak Dini

Pindahan rumah memang heboh.Tiga minggu lalu masih dlm rangka beres2, sulungku ash shollih aa mush'ab (3th 10 bln) menemukn kartu bacanya.Dengan girang ditunjukkannya pd emaknya.."nih ma kartu aa ketemu!"

Lalu dibuka salah satu serinya, yg terdiri dari aneka gambar.Setiap gambar benda yg kebetulan kami miliki, sholihku berkomentar," ini emak punya ya, ada di dapur!" Begitu setiap melihat perabotan dapur yg terdapat pada gambar tersebut. Hingga sholihku menemukan gambar microwave. Sholihku sdh kenal dg gambar itu, tapi dia tahu emaknya ga punya. "Ini mah emak ga punya, ya mak", katanya.
"ya,"jawabku.

Sekitar 2 hari kemudian, sy dan aa mush'ab pergi mengaji ke rmh salah seorang teman, ruangan yg kami tuju melintasi ruang yang di salah satu sudutnya terletak microwave.Kata Aa mush'ab," itu yg ada di gambar aa!"

"Iya, " kataku agak berbisik, agar aa mush'ab tak terlalu heboh. Tp kemudian sholihku bertanya lebih pelan suaranya dari ungkapan seru yg tadi,"emak mau beli miklowef?"

Jawabku,"kalau emak perlu dan ada uangnya, emak mau beli. tapi kalau tidak perlu ga akan beli. Emak untuk saat ini belum perlu, jd ga akan beli.Kalau tante (pemilik rmh) memerlukan microwave makanya beliau punya."

"Oh,"kata sholihku...*semoga percakapan ini terkenang hingga sholihku dewasa, bhw kita membeli sesuatu kalau perlu sj. Mengikis pola konsumtif sejak dini :)

Sabtu, 16 Maret 2013

Serupa Tapi Tak Sama

Tadi pagi,sy dg solih dan solihahku turun gunung, walau sebelumnya menanjak dulu, krn kami tinggal di sebuah lembah di dataran tinggi utara Bandung. Alhamdulillah udara bersih, air bersih dan segar, pemandangan menyegarkan dan menyehatkan mata juga, dan  tidak terlalu jauh dr jl raya. Selain itu,anak- dapat mengembangkan motorik kasar dan halusnya dg leluasa karena tersedia banyak fasilitas gratis seperti halaman luas, aneka hayati baik tumbuhan/ternak.Masjid jg cukup nyaman... banyak peluang pokoknya.

Ketika kami telah melewati beberapa menit perjalanan, naiklah 3 ibu paruh baya . Dari penampilannya, terlihat seperti hendak menghadiri suatu pertemuan, yaa..semacam arisan, reuni, atau undangan makan kali yaa. Apapun acaranya dapat diduga pasti ada acara makannya.

Beberapa menit kemudian para ibu itu celingukan seolah mencari sebuah tempat yg menjadi tujuan mereka.
"Sebelah mana ya?" "Oh,itu Rumah sosis."
"Sebrangnya, katanya." Timpal yg lainnya.
"Tapi yg mana ya..kok ga ada.""Kata ibu yg satunya lagi.
Mereka celingukan dan mulai kebingungan sementara sang angkutan umum terus melaju..tentunya semakin menjauh dari 'rambu' yg menjadi bekal panduannya.

Saya coba menanyakan tujuan mereka, barangkali saja bisa membantu.
"Kami mencari Rumah Pastel.Dimana ya?"

Rumah Pastel, penumpang seisi angkot saling pandang, dg sorot mata tidak tahu, tp berusaha mengingat tanda saling tidak mengetahui.
"Pokoknya dekat Rumah sosis, td sudah lewat," Kata si ibu yg  pandangan matanya berhasil menemukan tempat tersebut pada perjalanan td..
" Apakah yg dimaksud Risol-Risol?"Tanyaku, mencoba memastikan.
"Ah yaa..kayaknya itu," Kata ibu yg menyebutkan rumah pastel.
"Yuk turun disini saja, nanti kita jalan, "serunya.
Serupa tapi  tak sama rupanya, ;) *Mencobamenulislgdrygpalingsederhana :)

Kamis, 21 Februari 2013

5 W 1 H (Lima W satu H)

            Menulis memang mudah-mudah susah. Seringkali kita membutuhkan banyak latihan untuk dapat mulai menulis dengan  baik. Berbagai macam jenis tulisan tentulah banyak memiliki tingkat kesulitan tertentu, akan tetapi menumbuhkan kemauan dan keuletan untuk berlatih seringkali menjadi kendala utama. Teknik menulis sendiri sebenarnya dapat saja dipelajari kemudian.
            Menulis sebuah berita adalah jenis tulisan yang paling mudah, karena bahan tulisannya pun sudah jelas. Untuk menulis sebuah berita paling tidak diperlukan poin-poin yang sering disebut dengan 5W 1H, yaitu who, what, why, when, where dan how.  What, apa yang terjadi, atau ada peristiwa apa? Who, siapa yang menjadi sumber berita, siapa yang terkait dengan peristiwa tersebut. Kalau peristiwanya tabrakan, maka who di sini dapat menyangkut pelaku, saksi dan sebagainya. Why, mengapa peristiwa tersebut terjadi. Kurang lebih why berbicara tentang sebab munculnya kejadian.  When, kapan peristiwa tersebut terjadi, dan  where, dimana peristiwa itu terjadi. Sementara how adalah bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi. Jadi how ini lebih ke arah tahap demi tahap proses terjadinya suatu peristiwa.
            Untuk rekan-rekan sivitas akademika Departemen Biologi FMIPA-ITB, terutama rekan karyawan dan mahasiswa, dengan berpegang pada prinsip 5 W 1 H ini, paling tidak kita dapat mulai “iseng” menulis berita-berita di sekitar kampus kita dan hasil tulisannya dapat Anda kirimkan ke redaksi Warta. Selamat mencoba.

cat : tulisanku di warta no

Nomor 18, 20 Pebruari 2002, berhubung di rubrik selingan, jd tdk dicantumkan nama

Rabu, 20 Februari 2013

MEMBACA ALAM SEMESTA

Oleh : Hera Anggarawaty

Menikmati keindahan alam semesta bisa jadi merupakan hal yang biasa dilakukan oleh siapapun.  Kita pun seringkali merasakan kenyamanan tertentu manakala kita berada di tengah-tengah bentang alam yang indah. Jika kita sedikit   menyempatkan diri untuk “membaca”nya, maka akan dapat mengantarkan kita kepada Sang Pencipta. Itu menurut hemat penulis. Siapapun boleh saja untuk tidak sependapat. Namun, ada makna yang terkandung teramat dalam tatkala penulis membaca ayat,” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (TQS. Al Alaq :1).
Dari ayat tersebut, penulis mengambil pemahaman, mudah-mudahan tidak salah, bahwa perintah untuk membaca di sini, dimaksudkan untuk memahami sekaligus merenungkan apapun yang terpampang di hadapan kita, sehingga mengantarkan kita pada kenyataan bahwa manusia tidak mampu menciptakan semua itu kecuali Tuhan.
            Menurut penulis, sangatlah beruntung bagi orang-orang yang mempelajari ilmu alam, karena mereka diberi kesempatan lebih untuk berdekat-dekat dengan alam. Sehingga, kesempatan untuk  menemukan Tuhan lebih terbentang luas di hadapan  mereka.
            “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (TQS. Al Baqarah : 164).
Dari Firman Allah swt. tersebut, menambah keyakinan penulis bahwa memperhatikan alam semesta  memang akan lebih memberi kesempatan pada kita untuk menemukan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Penulis sendiri tidak mengkaji secara  langsung dan mendalam mengenai seluk-beluk alam. Namun, di sela-sela kesibukan dalam menentukan nomor-nomor untuk tesis, skripsi, buku  dan sebagainya, seringkali penulis perlu membaca secara sepintas isi dari buku atau laporan penelitian tersebut. Dengan demikian, kegiatan tersebut secara tidak langsung memberi kesempatan bagi penulis untuk sedikit memahami tentang Biologi sebagai ilmu yang sangat dekat dengan alam, walaupun pemahaman penulis itu masih sangat umum. Maklumlah penulis belajar Biologi secara formal hanya sampai sekolah menengah. Sisanya ya itu tadi, membaca sambilan. Yaa… hitung-hitung mempraktekkan  long life education. Karena dulu penulis pernah mendengar bahwa menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahat. Jadi selama hayat ini masih dikandung badan, berarti masih harus terus belajar.
            Kembali ke permasalahan awal, akhirnya dengan membaca sambilan  tersebut penulis sedikit mengetahui tentang rumitnya ‘pernak-pernik’ gen itu. Ada rekayasa genetika, yang penulis fikir  masih ada hal-hal yang perlu dikritisi. Penulis sedang mencoba mengkritisinya dari sudut etika Islam.  Penulis fikir walaupun awam tentang Biologi paling tidak penulis harus memiliki sikap tentang masalah ini sesuai keyakinan penulis, karena ini berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Bukankah dari waktu ke waktu perkembangan peradaban itu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia? Jadi tentunya kualitas hidup yang baik sekaligus benar, itulah yang diperlukan.
Tentang masalah teori evolusi, yang penulis ketahui ada pihak yang menyatakan telah runtuh, ada pula yang masih gigih mempublikasikannya. Kita lihat saja yang mana yang akan terbukti benar.  Nah, teori evolusi yang berkaitan pula dengan teori asal mula kehidupan, nyambung sekali dengan masalah penciptaan.
Penulis juga selalu merasa tertarik untuk membaca mengenai kultur jaringan dan segala sesuatu tentang mikrobiologi. Demikian pula halnya dengan Fisiologi dan Biologi Perkembangan, tanaman obat dan yang lainnya. Jelasnya, baik bidang ilmu Biologi yang dikerjakan di laboratorium ataupun di alam terbuka dapat lebih memberi kesempatan untuk menangkap fenomena yang mengantarkan kepada Sang Pencipta.
            Contoh sederhana adalah mengenai tumbuhnya sebatang pohon. Dari mulai biji, kecambah, kemudian tumbuh daunnya lembar demi lembar. Lalu tumbuh pula cabang-cabang di sebelah kiri dan kanannya hingga menjadi pohon kecil. Akhirnya datanglah masa berbunga dan berbuah. Manusia menanam biji tersebut. Memberi pupuk, menyiangi gulma di sekelilingnya, menyiramnya dan merawatnya hingga tumbuh dengan baik. Kadang usaha untuk merawat tanaman tersebut berbanding lurus dengan hasilnya. Akan tetapi tidak jarang pula tanaman sudah dirawat dengan sangat baik, tetapi hasilnya sangat jauh dari harapan. Jadi apakah semua itu mutlak hasil manusia? Ternyata tidak.
“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (Sambil berkata) : "Sesungguhnya kami benar-bemar menderita kerugian". (TQS. Al Waqi’ah 63-66).
Wallahu’alam.
Dimuat di : WARTA : Majalah Departemen Biologi FMIPA ITB, Nomor 18, 20 Pebruari 2002